Inflasi AS Tembus 6,8 Persen, Sri Mulyani: Pengetatan Moneter Semakin Besar

TEMPO.CO, Jakarta -Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mewaspadai kenaikan inflasi yang terjadi di Amerika Serikat dan Eropa. Menurut dia, resiko akan muncul dari kebijakan negara-negara maju di kawasan ini dalam merespon laju inflasi tersebut.

Salah satunya di Amerika Serikat, di mana inflasi Oktober sudah mencapai level 6,2 persen atau tertinggi sejak 30 tahun. Tapi pada November, inflasi masih terus naik hingga mencapai level 6,8 persen.

“Kami bisa langsung proyeksikan bahwa tekanan kepada otoritas moneter untuk melakukan pengetatan semakin besar, secara politik maupun faktual,” kata Sri Mulyani dalam acara Tempo Economic Briefing 2022 di akun YouTube Tempodotco pada Selasa, 14 Desember 2021.

Kondisi yang sama juga terjadi di Eropa yang biasanya mengalami inflasi mendekati 0 persen atau deflasi. Saat ini, beberapa negara seperti Jerman justru mengalami lonjakan inflasi sampai 4 persen. “Ini merupakan tekanan yang luar biasa,” kata dia.

Sehingga, kata dia, respons kebijakan Eropa dan Amerika Serikat inilah yang bakal berimbas kepada negara berkembang, tak terkecuali Indonesia. Padahal saat ini, Indonesia tengah mengalami pemulihan ekonomi akibat pandemi yang mulai terkendali.

Pada kuartal IV 2021 ini, Sri Mulyani menyebut beberapa perkembangan positif telah terjadi. Mulai dari Purchasing Managers’ Index (PMI) yang sudah 53,9 persen atau di level ekspansi, ekspor yang masih ekspansif di atas 50 persen, dan neraca pembayaran yang surplus.

Kondisi ini, kata dia, memperlihatkan fondasi perekonomian Indonesia cukup kuat untuk mempercepat pemulihan ekonomi. Dengan perkembangan di kuartal IV ini, Sri Mulyani berharap pertumbuhan ekonomi tahun ini tidak meleset dari target. “3,7 sampai 4,5 persen,” kata dia.

Menurut dia, Indonesia akan tetap menggunakan instrumen fiskal di APBN dan moneter di Bank Indonesia untuk mengawal pertumbuhan ekonomi ini. Selain itu, Indonesia juga bakal menggunakan kesempatan sebagai Presidensi G20 untuk mengangkat masalah penyesuaian kebijakan negara maju terhadap kenaikan inflasi ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.