Sahamnya Terancam Dicoret dari Bursa, Garuda Fokus Selesaikan Proses PKPU

Garuda Indonesia menanggapi informasi tentang potensi delisting saham GIAA yang disampaikan Bursa Efek Indonesia beberapa waktu lalu.

“Dapat kami sampaikan bahwa Garuda Indonesia terus memberikan perhatian penuh terhadap hal tersebut,” ujar Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra dalam keterangan tertulis, Selasa, 21 Desember 2021.

Untuk itu, kata dia, saat ini perseroan tengah fokus melakukan upaya terbaik dalam percepatan pemulihan kinerja melalui proses penundaan kewajiban pembayaran utang alias PKPU guna menghasilkan kesepakatan terbaik dalam penyelesaian kewajiban usaha.

Sehingga, nantinya saham perseroan dapat kembali diperdagangkan seperti sedia kala.

Sesuai dengan Informasi yang disampaikan oleh BEI, ia mengatakan delisting saham dilakukan setelah suspensi saham berlangsung sekurang-kurangnya 24 bulan dari waktu pengumuman suspensi.

Adapun saham Garuda Indonesia saat ini telah disuspensi selama 6 bulan berkaitan dengan penundaan pembayaran kupon sukuk.

“Oleh karenanya, lebih lanjut kami akan mengoptimalkan momentum PKPU dalam mengakselerasikan langkah pemulihan kinerja guna menjadikan Garuda Indonesia sebagai Perusahaan yang lebih sehat, agile dan berdaya saing,” ujar Irfan.

12 Selanjutnya

BEI sebelumnya mengumumkan potensi delisting saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk alias GIAA. Hal tersebut termuat dalam pengumuman Nomor Peng-00024/BEI.PP2/12-2021 yang diteken pada 20 Desember 2021.

Saham Garuda Indonesia telah disuspensi atau dihentikan sementara perdagangannya sejak 18 Juni 2021. Berdasarkan Peraturan Bursa Nomor I-I tentang Penghapusan Pencatatan (Delisting) dan Pencatatan Kembali (Relisting) Saham di Bursa, Bursa dapat menghapus saham Perusahaan Tercatat apabila memenuhi ketentuan tertentu.

Pertama, ketentuan III.3.1.1, yaitu Mengalami kondisi, atau peristiwa, yang secara signifikan berpengaruh negatif terhadap kelangsungan usaha Perusahaan Tercatat, baik secara finansial atau secara hukum, atau terhadap kelangsungan status Perusahaan Tercatat sebagai Perusahaan Terbuka, dan Perusahaan Tercatat tidak dapat menunjukkan indikasi pemulihan yang memadai.

Kedua, ketentuan III.3.1.2, Saham Perusahaan Tercatat yang akibat suspensi di Pasar Reguler dan Pasar Tunai, hanya diperdagangkan di Pasar Negosiasi sekurang-kurangnya selama 24 bulan terakhir.

“Sehubungan dengan hal tersebut di atas, maka saham PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (Perseroan) telah disuspensi selama 6 bulan dan masa suspensi akan mencapai 24 bulan pada 18 Juni 2023,” dinukil dari pengumuman tersebut.

CAESAR AKBAR

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.